Mahakam - Media Harga Komoditas Samarinda
Mahakam - Media Harga Komoditas Samarinda

Sabtu, 16 Desember 2017

Mahakam - Daftar SMS MarketMahakam - Tabel HargatMahakam - Grafik KomoditasMahakam - Virtual Tour

RI Optimistis Lanjutkan Tren Surplus

JAKARTA -  Meski didera pelemahan nilai ekspor, neraca perdagangan 2015 sukses mencetak rekor tertinggi sejak 3 tahun terakhir pada 2015 lalu. Pencapaian tersebut diyakini akan kembali terjadi pada tahun ini, yang diupayakan dengan rajin memperkuat perjanjian perdagangan bersama negara lain.

Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong menjelaskan, meskipun kinerja ekspor sepanjang tahun lalu sedang turun karena pelemahan harga komoditas, neraca perdagangan bisa mencetak surplus sebesar USD 7,5 miliar. Kondisi itu disebabkan laju penurunan impor lebih besar dibanding penurunan ekspor.

Thomas melanjutkan, beberapa komoditas yang berasal dari Indonesia memang sedang tertekan pada tahun lalu. Contohnya sawit dan karet. Penurunan harga komoditas tersebut terimbas penurunan harga minyak dunia dan juga melemahnya permintaan dari Tiongkok yang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. 

“Tapi ada titik cerah, di mana ekspor nonmigas naik signifikan, terutama dari komoditas biji kerak dan abu logam; kopi, teh dan rempah-rempah; perhiasan dan permata yang USD 5 miliar per tahun atau tumbuh 20 persen setiap tahun,” ucapnya saat konferensi pers di kantor Kemendag.

Kemendag, kata dia, optimistis perekonomian global maupun Indonesia lebih baik di tahun ini walaupun dua pekan pertama di Januari 2016 terjadi gejolak di pasar modal dunia, khususnya Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Namun ekonomi AS dan Eropa, sambungnya, semakin pulih sehingga diharapkan mampu menjadi lokomotif ekonomi di dunia di 2016.

“Ekonomi Indonesia juga semakin membaik, karena indikator investasi mulai menggeliat, pembangunan infrastruktur, deregulasi jalan terus, semakin kompetitif sehingga bisa membangun industri yang diperlukan untuk menggenjot ekspor,” jelas menteri yang juga mantan bankir ini.

Dia menargetkan, pertumbuhan ekspor Indonesia, terutama nonmigas, naik 9 persen pada tahun ini. Lembong berharap, kinerja perdagangan Indonesia terus stabil antara ekspor dan impor. Target tersebut, tambahnya, harus didukung dengan strategi-strategi khusus.

“Sudah banyak cerita sukses, makin banyak perusahaan penetrasi pasar ekspor ke negara ASEAN, Australia. Yang bisa membantu ini adalah kelanjutan deregulasi, debirokratisasi, memangkas perizinan yang berlebihan dan lainnya,” jelas Lembong.

Memacu ekspor, katanya, perlu upaya membuka pasar seluas-luasnya ke luar negeri. Salah satunya melalui perjanjian perdagangan, seperti mempercepat proses negosiasi perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa (EU) atau CEPA. Saat ini, pemerintah akan membentuk Tim Nasional lintas kementerian untuk mengkaji Trans Pacific Partnership (TPP). “Dua perjanjian perdagangan ini sangat besar dan ambisius,” ucapnya.

Lembong pun akan melanjutkan perjanjian perdagangan dengan negara-negara tertentu, antara lain Australia dan empat negara yang tergabung dalam The European Free Trade Association (EFTA), yakni Swiss, Norwegia, Islandia, dan Liechtenstein.

“Kami berharap bisa mendukung eksportir dengan membuka pasar lewat perjanjian perdagangan, karena perjanjian ini sudah dimulai zaman Susilo Bambang Yudhoyono, lalu berhenti saat pemilu. Makanya kami mau aktifkan kembali, untuk dituntaskan dalam waktu dekat,” tandasnya.

Sementara itu, menggeliatnya roda perekonomian juga tetap dinilai dapat menaikkan besaran impor bahan baku dan beberapa komponen lain ke Indonesia. Di sisi lain, hal ini menjadi potensi menyusutnya angka surplus.

“Dengan ekonomi kita pulih dan menguat mungkin industri kita makin menggenjot importasi bahan baku dan komponen. Itu kan perkembangan yang menggembirakan, meskipun surplusnya berkurang, tapi karena alasan yang sehat,” ujar  Lembong.

Walau begitu, dia menyebut, perbaikan ekonomi domestik diyakini bakal menjadi katalis positif tersendiri pada besaran impor bahan baku dan barang modal yang meningkat. Namun, ia menilai besaran surplus atau defisit neraca perdagangan yang wajar sejatinya tak lebih dari 1 hingga 1,5 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

“Umpamanya, kita kekurangan investasi sehingga orang tidak mengimpor mesin. Itu kan tidak menggembirakan meskipun itu bisa mengakibatkan surplus,” jelasnya.

Seperti diketahui, tahun lalu, neraca perdagangan Indonesia mencetak rekor tertinggi sejak 2011 dengan surplus sebesar USD 7,52 miliar. Nilai itu meningkat USD 9,72 miliar dibandingkan kinerja tahun sebelumnya yang mencatatkan defisit USD 2,2 miliar.

Namun, seiring dengan surplus neraca perdagangan 2016, besaran ekspor dan impor Indonesia mengalami penurunan menyusul dengan perlambatan ekonomi global.

Hal ini tercermin dari data ekspor Indonesia 2015 yang tercatat berada di angka USD 150,25 miliar, turun 14,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan rincian ekspor nonmigas yang melorot 9,77 persen ke angka USD 131,7 miliar, serta jumlah ekspor produk migas yang tergerus 38,2 persen ke posisi USD 18,55 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara dari sisi impor, capaian tahun lalu tercatat USD 142,74 miliar atau turun 19,9 persen dari 2014. Secara kumulatif, nilai impor terdiri dari migas yang turun 43,37 persen ke angka USD 24,61 miliar, dan nonmigas senilai USD 118,13 miliar, turun 12,32 persen dibandingkan tahun lalu.

Sedangkan jika didasarkan pada kategori golongan, nilai impor barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal tercatat mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Rinciannya, impor bahan baku/penolong anjlok 21,35 persen menjadi USD 107,12 miliar, diikuti impor barang modal yang turun 15,56 persen menjadi USD 24,74 miliar. Ada pun impor barang konsumsi tercatat USD 10,87 miliar atau negatif 14,16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

 


atau Kembali
BERITA TERKINI
Menggunakan Jargas untuk Rumah Tangga menghemat 50% dibanding Tabung LPG

Menggunakan Jargas untuk Rumah Tangga menghemat 50% dibanding Tabung LPG

Jakarta, ESDM RI - Komitmen pemerintah dalam menyediakan energi yang . . .

Maret Deflasi, Pemerintah Jangan Santai

Maret Deflasi, Pemerintah Jangan Santai

JAKARTA KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mengingatkan pemerintah untuk tetap bekerja menjaga . . .

Kelompok Makanan Sumbang Inflasi

Kelompok Makanan Sumbang Inflasi

SAMARINDA, Koran Kaltim - Sejumlah komoditas pokok di Provinsi Kalimantan . . .

HARGA TERTINGGI
HARGA TERENDAH
Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Prov. Kalimantan TimurBMKGDinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kal. TimurPemerintah Kota SamarindaBank IndonesiaBPS Kota Samarinda